Daur Ulang Air Mutanajjis

Daur Ulang Air Mutanajjis

Air merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan umat manusia, sedangkan pasokan air bersih yang layak  dikonsumsi sering kali kurang mencukupi kebutuhan, terutama pada musim kemarau. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ada upaya mendaur ulang air mutanajjis (air yang terkena najis), untuk menjadi air yang layak dikonsumsi dengan rekayasa manusia, dengan proses kimiawi. Artinya atas rekayasa manusia secara kimiawi, air mutanajjis berubah menjadi air bersih dengan cara menghilangkan ciri-ciri mutanajjis air sebelumnya, yang mencakup warna, bau dan rasa.

Lalu apakah air mutanajjis yang telah berubah menjadi air bersih secara kimiawi dapat dihukumi thahir muthahhir?

Air mutanajjis yang telah berubah menjadi air bersih secara kimiawi (yang hilang perubahan warna, bau dan rasanya) tersebut dapat dihukumi thahir muthahhir apabila volume hasil air yang diproses itu mencapai batas minimal dua qullah.

Dasar Penetapan

¨Dari Ibn Umar ra. ia berkata: ¨Saya mendengar Rasulullah saw. ditanya tentang air yang ada di tanah tandus dan air yang berulangkali didatangi binatang buas dan binatang ternak. Kata Ibn Umar ra. Rasulullah saw. menjawab: ¨Bila air sebanyak dua qullah, maka tidak membawa najis.¨ Abdah berkata: ¨Muhammad bin Ishak berkata: ¨Satu qullah sama dengan satu tempayan, dan (ukuran) yang diambil untuk air minum.¨ Abu Isa (Tirmidzi) berkata: ¨Itu pendapat Al-Syafiíe, Ahmad, Ishak. Mereka berpendapat: ¨Bila air mencapai dua qullah, maka ia tidak menjadi najis oleh apapun, selama bau atau rasanya tidak berubah. Mereka juga menyatakan: ¨Satu qullah itu sekira-kira lima girbah air.¨ (HR. Tirmidzi).

Referensi: Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2010 M), Khalista (Surabaya, 2011), cet. i. Hal. 644-645.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *